Balada Software Bajakan

Pemakaian perangkat lunak atau erat kita kita kenal dengan sebutan software di era modern ini tentu sudah menjadi kebutuhan, bahkan mungkin sebuah kewajiban. Namun, sangat disayangkan bahwa penggunaan software bajakan di kalangan masyarakat saat ini sudah dianggap lumrah. Bahkan, banyak orang kini tidak lagi menganggap bahwa tindakan pembajakan software dalam bentuk apapun adalah sebuah kriminalitas.

Sudah tidak dipungkiri lagi, banyak perhitungan dalam bidang teknik sipil atau rekayasa struktur pada khususnya erat dengan penggunaan software atau program analisis komersil. Harga lisensinya tidak bisa dibilang terjangkau. Untuk ukuran sebuah perusahaan saja, dari pengalaman pribadi penulis, perusahaan harus memperhatikan secara detail kebutuhan dan pengalokasian pemakaian software agar tidak terjadi pembengkakan budget sewa lisensi-lisensi yang kami pakai.

Memangnya penulis sendiri gak pakai software bajakan apa?

Penulis bisa mengerti kekesalan beberapa pihak ketika mendapati tulisan-tulisan semacam ini. Hehe. Penulis pribadi memastikan tidak ada software satu pun pada laptop penulis yang didapatkan dari hasil cracking atau keygen. (gokil gak sih…). Mulai dari piranti dasarnya, operating system, microsoft office, hingga perangkat yang digunakan sampai tulisan ini dibuat semuanya dipastikan legal. Terlepas bahwa, proses untuk meninggalkan produk-produk ilegal semacam itu tentu perlu kesadaran dan perjuangan yang berat. Namun, keyakinan penulis akan prinsip, “dibalik masalah yang rumit, pasti ada solusi yang mudah” menguatkan hati penulis agar mantap untuk memastikan rutinitas hariannya bersih dari tindakan pencurian semacam ini.

Alasan butuhnya kita meninggalkan perilaku pembajakan

Sebagai penganut agama Islam, kita tentu paham bahwa pencurian adalah bentuk perampasan hak orang lain. Agama ini jelas mengakui akan sebuah hak kekayaan intelektual bagi siapa pun tanpa membedakan golongan. Pada masa penulis masih kuliah dulu, pernah ada pernyataan seorang teman yang menyebutkan bahwa, pembajakan akan produk orang non-muslim itu bisa diterima. Sudah tentu, penulis tidak bisa menerima pendapat yang subyektif seperti itu.

Tentu tidak dibenarkan penggandaan dan pemakaian program-program tanpa seizin pemiliknya dengan alasan apapun. Terlebih berdalil pada alasan yang dibuat-buat untuk kepentingan pribadi. Perlu kita pahami bahwa tindakan pembajakan ini pun memberikan dampak negatif bagi pelakunya.

Rezeki Tidak Berkah

Tentu konsep rezeki tidak bisa kita pandang hanya semata terkait harta. Namun, jika kita persempit konteksnya terkait penghasilan, tentu kita sepakat bahwa materi yang dihasilkan dari profesi yang kerjanya bergantung dengan software bajakan tidak dapat membangun keberkahan.

Rentan Terserang Virus dan Tidak Stabil

Program yang dipasang tanpa lisensi resmi tidak mendapat support dari pabrikan. Setiap produk digital selalu memiliki bug yang dapat menimbulkan masalah pada masa penggunaannya. Jika program anda dapat terpasang di komputer berkat keberhasilan pembobolan lisensi secara ilegal, sudah tentu update dan komplain terkait pembaharuan program tidak dapat dilakukan.

Serangan virus terhadap sebuah program akan lebih mudah terjadi pada program yang latar belakangnya ilegal. Pengalaman penulis pribadi, selama memakai program-program orisinal belum pernah mengalami file-file bermasalah, seperti hidden file, corrupt, atau hal semacamnya yang mungkin wajar kita jumpai pada perangkat-perangkat bajakan.

Solusinya apa?

Bagi pembaca yang memiliki dana yang mencukupi, sudah tentu membeli produk yang orisinal adalah jalan yang tepat. Hargailah produk milik orang lain, sebagaimana anda mau karya anda dihargai oleh orang lain pula. Lain halnya bagi pembaca yang masih perlu mengumpulkan dana sebelum bisa mendapatkan produk yang asli. Solusi yang bisa diambil adalah mencari alternatif. Kemampuan yang anda miliki sehingga membuat anda mampu untuk membobol lisensi resmi sebuah produk tentu membuktikan bahwa anda memiliki kemampuan dasar untuk berpikir secara cerdas.

Alternatif lain yang dapat diambil adalah pemakaian software opensource.Memang software opensource terkadang tak sekeren yang bajakan. Namun, semua itu sebenarnya tergantung keahlian dan bagaimana cara mengakali kekurangan software tersebut. Saya pernah lihat karya “Dzofar – Sang Vektoria Jenaka” yang membandingkan hasil karyanya yang dibuat dengan inkscape dan Corel Draw. Hasilnya tidak jauh berbeda. Hanya saja, dia berpendapat bahwa software opensource tidak lebih praktis. Nah, jadi masalahnya bukan pada software, tapi keahlian.

Kembali lagi membahas pemakaian software di bidang teknik sipil. Jika pembaca masih “cinta” memakai produk yang bajakan. Penulis sarankan untuk berpikir cerdas dan mencari solusi sesegera mungkin. Tentu kita semua mau rezeki yang dihasilkan sepenuhnya halal. Apalagi jika penghasilan itu akan kita berikan untuk istri dan anak-anak kita tersayang. Sudah sepantasnya kita menjaga perut-perut mereka dari harta dan makanan yang Allah tidak ridhai. Aamiin 🙂

Leave a Reply